Belasan Ribu Guru Honorer Sumsel Berjuang Jadi CPNS

 Belasan Ribu Guru Honorer Sumsel Berjuang Jadi CPNS

Harleni dan Susi Marleni, salah satu dari ribuan guru honor di Sumsel yang berjuang jadi CPNS. Foto : Larassati, sibersumsel.com

Reporter : Larassati

PALEMBANG, SIBERSUMSEL.com,- Seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Sumsel adalah perjuangan hidup dan mati bagi belasan ribu Guru Honorer di Sumsel.

Pada hari pertama seleksi PPPK, satu orang honor di Kabupaten Muba ditemukan meninggal usai mengerjakan materi P3K. kegiatan seleksi sudah dimulai sejak Senin (13/9/2021) lalu serentak di Indonesia.

Khusus di Sumsel, kegiatan diikuti lebih dari 11 ribu guru honor dengan sistem tes secara komputerisasi selama tujuh hari. Pengumuman kelulusan tahap pertama akan dilakukan pada Kamis (24/9/2021) mendatang.

Harleni, guru dari SDN 4 Musi Banyuasin bercerita pada hari pertama seleksi, satu guru, yang merupakan rekannya meninggal usai mengikuti tes tersebut.

Dia pun secara pribadi mengaku pesimis bisa lulus tes P3K lantaran standar passing grade kelulusan sangat tinggi.

Dari hasil uji teknis yang sudah dilakukan, nilai passing grade yang dicapainya tidak memenuhi padahal dirinya sangat berharap bisa lulus menjadi CPNS tahun ini.

Ia sudah terdaftar menjadi honorer sejak 14 tahun dengan usia yang kini capai 45 tahun.

“Meski pengumuman masih hari Kamis nanti, tapi saya pesimis bisa lulus karena nilai passing grade belum capai,” kata Harleni.

Minimnya capaian Passing grade, lantaran kisi-kisi soal yang diberikan Pemerintah sejak Maret, lalu tidak sama dengan materi tes yang diujikan saat seleksi. Bahkan dia bersama rekan-rekannya mengaku kecele karena sudah belajar secara total untuk materi kisi-kisi soal, baik itu melalui metode try out hingga bentuk pelatihan lainnya.

Selain dihadapkan pada profesi guru, yang mewajibkannya mengajar selama enam jam setiap hari sekolah, juga harus menuntaskan kewajibannnya sebagai ibu rumah tangga yang mengurus keluarganya yang lain, jelang tes, dia harus berkutat belajar dengan soal-soal kisi yang diberikan pemerintah termasuk mengikuti seleksi try out untuk pemantapan jelang seleksi.

“Sejak Maret sudah dikasih kisi-kisi, yang kami pelajari itu ternyata soal yang keluar hanya 20 persen saja, makanya kami kaget juga,” ujarnya. 

Materi yang diberikan, lanjut dia, terbilang sulit dikerjakan sehingga dia pesimis mampu lulus dalam  seleksi hari pertama, terkait uji kemampuan pengetahuan.

Sedangkan untuk materi lainnya, seperti uji wawancara dan uji teknis lainnya nilainya bahkan jauh diatas standar kelulusan. Meski optimis lulus pada dua sesi tes dan satu sesi tidak lulus namun hasil akhir tetap tidak akan meluluskan semuanya.

“Karena syaratnya, tiga tes harus lulus semua baru bisa lulus menjadi CPNS,” katanya.

Senada diungkapkan Susi Marleni, seorang guru dari SDN 85 Palembang. Susi, mengaku menjadi honorer sejak 11 tahun lalu dan berharap tahun ini bisa menjadi CPNS. Namun harapannya sirna pada tes uji kompetensi, lantaran passing grade terlalu tinggi.

Kondisi itu membuatnya ketar ketir dan memupuskan harapannya menjadi CPNS.

Lanjut dia, masih ada kesempatan untuk ikut seleksi P3K tahap kedua dan ketiga hingga Desember, mendatang namun kecil kemungkinan nya bisa lulus lantaran kuota untuk CPNS wilayah Palembang dari jalur P3K hanya 500 guru saja.

“Kuota CPNS honorer guru di Palembang ini kan cuma 500, kalau tahap pertama sudah memenuhi, berarti tahap kedua tinggal mengisi kekosongan saja, makanya kecil kemungkinan kami bisa lulus tahun ini, ” ungkapnya sedih.

Melalui Forum Solidaritas Nasional Wiyayabakti Sumsel yang ketuainya, Susi Marleni, bersama 11 ribuan guru lainnya sudah melakukan pertemuan dengan ketua PGRI Sumsel agar bisa memberikan kelonggaran terkait penetapan passing grade yang dirasakan guru masih sangat tinggi.

Bahkan  boleh dikatakan hampir 70 persen guru tidak akan mencapai batas tersebut, lantaran faktanya guru-guru honorer di Sumsel sudah mengabdi dalam waktu bertahun-tahun, belum lagi harus menghadapai fungsi dan tanggung jawab sebagai sebagai seorang ibu rumah tangga.

“Jika kita dihadapkan pada bebas standar passing grade yang jauh melampaui dari CPNS biasa, bagaimana kita bisa mau lulus,” ungkapnya.

Pihaknya melalui Organisasi PGRI, baik tingkat kota maupun Sumsel bisa menyalurkan aspirasi guru agar terbebas dari beban standar passing grade yang sangat tinggi.

“Harapan kita paling tidak diturunkan agar kita punya pintu buat menjadi CPNS,” harapnya.

Dalam upaya tersebut, pihaknya juga sudah berdiskusi melalui Komisi V DPRD Sumsel  agar membantu meneruskan aspirasi guru.

Tujuannya agar pemerintah pusat bisa melakukan revisi terkait standar pasing grade pada uji P3K untuk para guru yang sudah mengabdi bertahun-tahun, termsuk meneruskan perjuangan aspirasi guru kepada Komisi XI DPR RI agar ikut membuat aturan revisi baru sehingga kesempatan menjadi pegawai abdi negara sesungguhnya bisa dirasakan.

“Kami akan dorong dan terus berjuang agar keluhan kami ini bisa didengarkan, termasuk kami berharap pak Gubernur Sumsel, Herman Deru, bisa membantu kami juga,” tukasnya.

Share this:

Tinggalkan Komentar Anda Mengenai Berita Ini, Harap berkomentar dengan sopan dan bijak.

Related post