Warga PALI Keluhkan Jalan Rusak Akibat Aktifitas Truk Batubara

 Warga PALI Keluhkan Jalan Rusak Akibat Aktifitas Truk Batubara

Kondisi salah satu jalan di PALI yang rusak akibat aktifitas truk batubara yang melintas melebihi tonase. Foto : Ando (sibersumsel.com)

Penulis : Ando

Editor : Nuraini

PALI, SIBERSUMSEL.com,-  Warga di kawasan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumsel, keluhkan jalan rusak. Kerusakan jalan ini akibat aktifitas truk bermuatan batubara yang melebihi tonase.

Kerusakan jalan tersebut terdapat di perlintasan armada batubara di Kelurahan Handayani Mulia Simpang Raja, Jerambah Besi Desa Sinar Dewa, hingga menuju Dewa Sebane Desa Panta Dewa Kecamatan Talang Ubi.

Bahkan puluhan titik jalan umum itu mulai mengalami keretakan, hancur berlobang hingga membentukan gundukan karena dilindas armada yang bermuatan berat.

Aan, warga Talang Ubi, mengatakan setiap harinya armada batubara yang membawa hasil tambang PT. BSEE yang berlokasi di Talang Bulang menuju stock field di Pesisir Musi, bermuatan hingga 14 ton per armada setiap harinya. Padahal batas maksimal yang yang diizinkan adalah 8 ton untuk satu kali jalan.

“Akibatnya sesuai prediksi masyarakat. Jalan akan cepat sekali rusak. Hal ini tentu saja akan menghambat mobilitas pengendara yang melintas. Apalagi jalan tersebut adalah akses utama menuju ibukota PALI,” cetusnya, Rabu (13/7/2022).

Selain kerusakan jalan yang juga dapat memicu terjadinya kecelakaan, tumpahan batubara di badan dan bahu jalan berpotensi menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan.

“Ada banyak sekali dampak negatif dari kegiatan tambang ini. Maka wajar jika beberapa waktu lalu viral berita tentang penolakan oleh masyarakat PALI,” imbuhnya.

Oleh karenanya, ia berharap Pemerintah Kabupaten PALI maupun Provinsi dapat mengevaluasi kegiatan tambang di Bumi Serepat Serasan ini, agar baiknya dihentikan saja. Karena lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya.

“Jika jalan cepat sekali rusak maka pemerintah akan mengeluarkan anggaran lebih banyak untuk membangun dan memeliharanya. Belum lagi gejolak dan konflik yang timbul akibat penambangan. Rusaknya lingkungan dan alam, juga patut dipertimbangkan secara komprehensif,” tukasnya.

Sementara itu, menurut pengakuan seorang sopir angkutan batubara di PALI, mereka terpaksa mengangkut muatan melebihi kapasitas yang diizinkan, karena kejar target demi mendapatkan upah yang sesuai.

“Bukannya kami tidak ingin mematuhi aturan. Tapi terpaksa harus bermuatan 12 hingga 14 ton/ret, karena upah gendong hanya Rp70 ribu per ton,” ungkap sopir batubara yang meminta agar namanya tidak disebutkan.

Share this:

Tinggalkan Komentar Anda Mengenai Berita Ini, Harap berkomentar dengan sopan dan bijak.

Related post