Warga Tanjung Sari Resah Buaya Berkeliaran di Sungai

 Warga Tanjung Sari Resah Buaya Berkeliaran di Sungai

Plt Assisten II Pemkab Banyuasin, Hasmi.

Penulis  :  Rizki Apriyansa

Editor    :  Mamnuro’aini

BANYUASIN, SIBERSUMSEL.COM,-  Warga Desa Tanjung Sari Kelurahan Sukamoro Kecamatan Talang Kelapa Kabupaten Banyuasin resah karena kehadiran buaya di sungai sekitar pemukiman mereka. Buaya dengan berbagai ukuran mulai dari sebesar lengan orang dewasa hingga sepanjang dua meter hampir setiap hari terlihat warga  berkeliaran di sungai mereka.

Ketua RT 30 Desa Tanjung Sari,  Nurcahya, usai menghadiri rapat mediasi tindaklanjut permalasahan hewan buaya mengatakan, buaya tersebut diduga lepas dari Penangkarannya yang berlokasi di desa setempat.

“Kami dapatkan informasi dari kawan yang sering memancing di sungai sering melihat buayanya sebesar lengan. Kalau ukuran seperti itu kami masih tidak khawatir, Tapi kita sering bertemu yang ukuran 2 meter itu kami tidak bisa menangkapnya,” ungkapnya.

Dikatakan Nurcahya bahwa nama sungai ditempat tinggalnya disebut sebagai sungai buntu. Selama tinggal dari tahun 80-an tidak ada buaya berkeliaran disana. Namun sejak ada penangkaran buaya di desanya, sungai tersebut sering terlihat ada buaya.

“Kami mengharapkan pemerintah untuk segera untuk menyelasaikan permalasahan ini. Kami mohon segera di tindak lanjuti supaya kami tidak resah dan tidak ada korban,” harapnya.

Plt Asisten II Setda Kabupaten, Hasmi, mengatakan akan secepatnya dilakukan penangkapan terhadap hewan buaya tersebut. Pihaknya telah menyepakati penangkapan akan dilakukan pada Sabtu, tanggal 17 Oktober 2020.

“Kita akan melakukan penyisirian dan penangkapan terhadap hewan tersebut dan hal ini nantinya akan dilakukan secara berkelanjutan sampai buaya itu tidak ada lagi,”ujarnya.

Kemudian, tempat penangkaran Buaya juga akan di koordinasikan untuk diperketat pengawasan dan keamanan. Sehingga tidak ada lagi dampak terhadap lingkungan baik itu mengancam keamanan ataupun limbahnya. Apalagi jika buaya tersebut berukuran kecil, ada celah sedikit, maka bisa menjadi celah untuk mereka keluar.

“Tempat penangkaran sudah kita tinjau, keamanan harus diperketat dengan membangun lagi pagar penangkaran secara berlapis. Sehingga ketika ada yang keluar dari penangkaran, ruang gerak mereka terbatas karena ada pagar lapisan untuk Safety,” tegasnya.

Sementara Pemilik Penangkaran Buaya, Joni, mengatakan pihaknya sudah lama melakukan penangkaran buaya dan beberapa kali sudah pindah tempat serta sudah diperbaiki juga tempat penangkaran tersebut.

Mengenai masalah adanya buaya yang terlepas, Joni menegaskan bahwa di Indonesia buaya merebak dimana-mana, karena habitatnya terganggu. “Di Kota Palembang pun yang tidak ada buaya, tau – tau pihaknya disuruh menangkap disimpang Sekojo di dalam got lagi,”ujarnya.

Tanpa bermaksud membela diri, lanjut Joni kalau untuk mengatakan ada buaya penangkaran lepas itu tidak sembarangan, melainkan dari departemen yang berhubungan.

“Kalau tidak ada intervensi dari pihak luar tidak akan ada yang bisa keluar. Kita memang pernah lalai karena pergantian orang jaga meninggal dan belum ada penggantinya. Tapi sekarang sudah ada penggantinya dan telah kita perbaiki kandang Pelindung yang di jebol orang,” jelasnya.

Bagikan konten :

Tinggalkan Komentar Anda Mengenai Berita Ini, Harap berkomentar dengan sopan dan bijak.

Related post